Riset Ungkap Kunci Sukses Nilai Mahasiswa: Dosen Tak Cukup Pintar, Perlu Keseimbangan ‘Optimal Zone’
Karawang — Sebuah orasi ilmiah mengungkap temuan mengejutkan mengenai hubungan antara kemampuan dosen dalam menilai (Writing Assessment Literacy/WAL) dengan keberhasilan mahasiswa. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Nia Pujiawati, S.S., M.Pd ini menyimpulkan bahwa tingginya WAL formal dosen tidak selalu berkorelasi lurus dengan prestasi mahasiswa. Kunci efektivitas penilaian justru terletak pada pencapaian Optimal Zone, sebuah titik keseimbangan antara tantangan dan kenyamanan belajar mahasiswa. Rabu (19/11/2025).
Peneliti menjelaskan, jika penilaian terlalu sederhana, mahasiswa mungkin nyaman tetapi tidak berkembang. Sebaliknya, jika terlalu kompleks, mereka akan kewalahan dan proses belajar menjadi tidak optimal.
“Keberhasilan (penilaian) lahir dari keselarasan, bukan hanya dari satu aspek saja,” ujar peneliti dalam pidatonya.
3 Dimensi Penilaian Dosen
Untuk mencapai Optimal Zone tersebut, penelitian ini memperkenalkan Model ME-WAL (Multidimensional Enactment of Writing Assessment Literacy) yang melibatkan tiga dimensi krusial: di
Theoretical Knowledge: Pemahaman mendalam tentang konsep, prinsip, dan kriteria penilaian.
Pedagogical Experience: Kemampuan praktis dosen yang terbentuk dari pengalaman dan intuisi, termasuk memberikan umpan balik yang efektif dan membuat keputusan penilaian yang cepat dan tepat.
Contextual-Relational Responsiveness: Kemampuan dosen untuk memahami konteks belajar, motivasi, budaya akademik, serta kondisi emosional mahasiswa, yang menjadikan penilaian humanis.
Salah satu temuan kunci dari riset ini adalah mahasiswa yang diajar oleh dosen dengan tingkat WAL formal rendah justru melaporkan tingkat kepuasan belajar yang tinggi.
Hal ini terjadi karena praktik penilaian yang diterapkan oleh dosen tersebut cenderung lebih sederhana dan tidak rumit, membuat mahasiswa merasa aman dan tidak terbebani secara kognitif. Efektivitas penilaian, oleh karena itu, dinilai tidak linear dan sangat bergantung pada kesesuaian praktik penilaian dengan kebutuhan dan konteks mahasiswa.
Implikasi bagi Pendidikan Tinggi
Hasil penelitian ini membawa konsekuensi signifikan bagi pengembangan mutu pendidikan tinggi. Dosen disarankan tidak hanya berfokus pada teori penilaian, tetapi juga mengadopsi pelatihan yang multidimensional.
Selain itu, desain penilaian harus mempertimbangkan kognitif mahasiswa, bukan semata-mata standar akademik. Penilaian diharapkan berfungsi sebagai alat refleksi profesional bagi dosen untuk menyeimbangkan teori, pengalaman, dan konteks, sekaligus mendorong perkembangan mahasiswa alih-alih hanya mengukur hasil akhir.
(Fay)






