Jakarta | SUARAPURWASUKA.COM– Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus, yakni kelompok virus yang dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru dan ginjal. Penyakit ini ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya, terutama melalui urine, feses, dan air liur yang terkontaminasi.
Dilansir dari Alodokter, hantavirus termasuk penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang penularannya berasal dari hewan ke manusia. Penularan umumnya terjadi saat seseorang menyentuh atau menghirup partikel yang terkontaminasi cairan tubuh tikus yang terinfeksi.
Hantavirus diketahui dapat memicu dua kondisi utama, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang pembuluh darah dan ginjal.
WHO menyebutkan bahwa sebagian besar kasus hantavirus menular dari hewan ke manusia. Namun, strain Andes hantavirus di Amerika Selatan dilaporkan memiliki kemungkinan penularan antarmanusia, meski kasusnya masih tergolong jarang.
Sementara itu, hingga Mei 2026, strain Andes hantavirus belum ditemukan di Indonesia. Kasus yang pernah dilaporkan di Indonesia umumnya berkaitan dengan strain Seoul virus (SEOV) yang ditularkan dari tikus ke manusia.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala hantavirus biasanya muncul 1 hingga 8 minggu setelah seseorang terpapar virus. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, hingga gangguan pencernaan.
Pada kasus HPS, kondisi dapat berkembang menjadi batuk, sesak napas, nyeri dada, hingga pembengkakan paru-paru yang berisiko menyebabkan kematian.
Sedangkan pada kasus HFRS, penderita bisa mengalami gangguan ginjal, tekanan darah rendah, perdarahan, hingga syok.
Tingkat kematian akibat HPS dilaporkan mencapai sekitar 40 persen, sedangkan HFRS berkisar 5 hingga 15 persen.
Kelompok yang Berisiko
Orang yang tinggal di lingkungan dengan populasi tikus tinggi memiliki risiko lebih besar terpapar hantavirus. Selain itu, pekerja konstruksi, petugas pengendalian hama, hingga mereka yang gemar berkemah atau mendaki gunung juga perlu meningkatkan kewaspadaan.
Penularan dapat terjadi ketika seseorang menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Pencegahan Jadi Langkah Utama
Hingga saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah hantavirus. Karena itu, langkah pencegahan menjadi upaya utama untuk menghindari infeksi.
Masyarakat dianjurkan rutin mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, membasmi sarang tikus, serta menggunakan alat pelindung diri bila bekerja di area berisiko tinggi.
Selain itu, area yang berpotensi menjadi sarang tikus seperti gudang, tong sampah, dan ruangan yang jarang digunakan perlu dibersihkan secara berkala menggunakan disinfektan.
Dokter juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus, terutama setelah kontak dengan tikus atau cairan tubuhnya.
(Red)






