SUBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang mencatat sedikitnya 31 kejadian bencana hidrometeorologi sepanjang tahun 2026 hingga 25 Januari 2026. Dari jumlah tersebut, banjir menjadi bencana paling dominan dengan 22 kejadian, disusul angin kencang sebanyak 7 kejadian dan tanah longsor 2 kejadian.
Berdasarkan data BPBD Subang, ribuan warga terdampak akibat bencana tersebut. Tercatat 3.489 kepala keluarga (KK) atau 9.481 jiwa terdampak, sementara 398 KK atau 1.057 jiwa terpaksa mengungsi. Meski demikian, tidak ada laporan korban meninggal dunia, hilang, maupun luka-luka dalam rangkaian kejadian tersebut.
Banjir Rendam Sejumlah Kecamatan
Bencana banjir tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya Kecamatan Ciasem, Pamanukan, dan Blanakan. Di Kecamatan Ciasem, banjir melanda sejumlah desa seperti Ciasem Tengah, Ciasem Hilir, dan Ciasem Baru, dengan ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 100 sentimeter. Ribuan warga terdampak, bahkan ratusan di antaranya harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Sementara itu, di Kecamatan Pamanukan, banjir melanda Desa Pamanukan dan Desa Muara, dengan ketinggian air mencapai 20–40 sentimeter. BPBD mencatat sebagian besar genangan air di wilayah tersebut telah berangsur surut.
Tanah Longsor dan Angin Kencang
Selain banjir, tanah longsor terjadi di Kecamatan Serangpanjang dan Kecamatan Ciater. Longsor dilaporkan menutup akses jalan desa serta saluran air, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Adapun angin kencang melanda sejumlah wilayah seperti Kecamatan Cijambe, Sagalaherang, Ciater, Serangpanjang, dan Subang. Dampaknya berupa pohon tumbang yang menutup akses jalan serta kerusakan ringan pada rumah warga.
Dampak Kerusakan
Dari sisi kerusakan, BPBD mencatat 3.355 rumah terendam banjir, sementara 1 rumah mengalami rusak ringan. Selain itu, bencana hidrometeorologi juga berdampak pada 3 sekolah, 14 tempat ibadah, dan sekitar 227 hektare sawah yang terendam air.
BPBD Kabupaten Subang mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi. Koordinasi lintas sektor terus dilakukan guna mempercepat penanganan bencana dan meminimalisasi dampak yang ditimbulkan.






