Karawang | SUARAPURWASUKA.COM _ Kitab klasik pendidikan Islam, Ta’limul Muta’allim Thariqah at-Ta’allum karya Syaikh al-Zarnuji, tidak hanya membahas metode menuntut ilmu, tetapi juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan sebagai penunjang keberhasilan belajar. Salah satu pembahasan yang menarik perhatian adalah tentang bahaya menumpuknya dahak (balgham) dalam tubuh yang dikaitkan dengan kemalasan dan lemahnya daya ingat.
Dalam fasal mengenai adab dan usaha menuntut ilmu, dijelaskan bahwa kondisi fisik memiliki pengaruh besar terhadap ketajaman akal. Dahak yang berlebihan disebut dapat menyebabkan tubuh terasa berat, muncul rasa malas, hingga melemahkan hafalan.
Penyebab Dahak Menumpuk
Syaikh al-Zarnuji menyoroti perilaku makan dan minum sebagai faktor utama. Kekenyangan akibat makan dan minum secara berlebihan disebut sebagai penyebab utama menumpuknya lendir dalam tubuh. Perut yang terlalu penuh dinilai menghambat kecerdasan dan mengurangi semangat belajar.
Selain itu, kebiasaan minum langsung dari timba atau wadah besar juga diperingatkan karena berpotensi membuat seseorang minum secara berlebihan tanpa terkontrol.
Jenis makanan tertentu turut disebut berkontribusi terhadap produksi dahak, terutama makanan yang terlalu manis, berminyak, atau berlemak tinggi. Konsumsi minuman secara berlebihan dan terus-menerus juga dianggap memperparah kondisi tersebut.
Dampak terhadap Proses Belajar
Dalam penjelasannya, dahak yang menumpuk tidak hanya berdampak secara fisik seperti batuk atau gangguan kesehatan ringan lainnya. Lebih dari itu, kondisi tersebut diyakini memengaruhi kualitas belajar.
Tubuh yang terasa berat memicu rasa malas, sehingga mengurangi semangat dalam beribadah maupun menuntut ilmu. Bahkan, disebutkan bahwa dahak dapat menghambat ketajaman ingatan dan menyebabkan lemahnya hafalan.
Pandangan ini menunjukkan bahwa dalam tradisi pendidikan Islam klasik, kesehatan jasmani dipandang sebagai bagian integral dari keberhasilan intelektual.
Solusi dan Anjuran
Sebagai solusi, Syaikh al-Zarnuji menganjurkan pola makan secukupnya. Prinsip yang ditekankan adalah makan sebelum terlalu lapar dan berhenti sebelum kenyang.
Mengurangi makan disebut sebagai salah satu jalan memperoleh fathun atau keterbukaan pikiran.
Puasa juga dianjurkan sebagai cara efektif untuk mengurangi lendir dalam tubuh serta menjaga fokus dan kejernihan berpikir.
Penegasan Nilai Moderasi
Melalui ajaran tersebut, Syaikh al-Zarnuji menegaskan pentingnya sikap moderat dalam konsumsi makanan dan minuman. Bagi para penuntut ilmu, menjaga kesehatan bukan sekadar urusan fisik, tetapi juga strategi untuk mempertajam akal dan memperkuat hafalan.
Pesan ini dinilai tetap relevan hingga kini, terutama di tengah gaya hidup modern yang cenderung berlebihan dalam pola konsumsi. Prinsip pengendalian diri dan keseimbangan menjadi fondasi utama dalam meraih keberhasilan akademik maupun spiritual.
(Rifa’i)






