Karawang | Suarapurwasuka.com —Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kabupaten Karawang. Menyikapi hal tersebut, Kepala Puskesmas UPTD Medangasem Dr. Tuti Susilawati mengimbau masyarakat agar tidak hanya bergantung pada kegiatan fogging dalam upaya pencegahan DBD, melainkan lebih fokus pada tindakan pencegahan melalui pola hidup bersih dan sehat.
Menurut Dr.Tuti, fogging atau pengasapan bukan merupakan solusi utama dalam menekan penyebaran DBD. “Fogging biasanya dilakukan oleh pihak puskesmas dan desa, tetapi sebelumnya dilakukan penelitian epidemiologi terlebih dahulu. Jika ditemukan jentik positif, barulah fogging dilaksanakan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik-jentik nyamuk perlu diberantas dengan cara abatisasi, yaitu pemberian bubuk abate pada tempat penampungan air yang terbukti positif terdapat jentik.
Lebih lanjut, Dr. Tuti menekankan pentingnya gerakan 3M++ sebagai langkah utama pencegahan DBD, yaitu:
1. Menguras bak mandi minimal seminggu sekali.
2. Menutup rapat tempat penampungan air.
3. Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Tambahan “++” meliputi membersihkan lingkungan dari genangan air seperti pot bunga, kolam ikan, ember, dan saluran air di sekitar rumah.
“Jangan biarkan kaleng atau ember bekas menampung air hujan, karena bisa menjadi sarang nyamuk yang kerap tidak kita sadari. Rumah juga harus bersih, cukup cahaya matahari, memiliki ventilasi udara, dan tidak terlalu banyak pakaian bergantungan,” tuturnya;
Ia juga mengingatkan agar aparatur desa terus aktif memberikan sosialisasi pencegahan DBD kepada masyarakat di masing-masing wilayah, khususnya di Desa Medangasem, Kampungsawah, dan Ciptamarga.
“Sekali lagi, DBD dapat dicegah dengan 3M++. Mari kita bersama menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat,” pungkasnya;






