PURWAKARTA – Dalam upaya menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas hasil tani, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) di Desa Taringgultengah resmi meluncurkan program kerja unggulan bertajuk GEMA TANGKAS (Gerakan Bersama Petani Tanggulangi Penyakit Blas).
Acara yang mengusung tema “Sinergi Gema Tangkas: Satukan Langkah, Bebaskan Sawah dari Ancaman Blas” ini dijadwalkan akan berlangsung pada hari Jumat, 16 Januari 2026. Program ini dirancang sebagai respon kolaboratif terhadap tantangan serangan jamur Pyricularia oryzae yang kerap menghantui para petani padi di wilayah tersebut.
Kolaborasi Strategis di Lapangan
Penyakit blas merupakan ancaman serius yang dapat menurunkan kualitas hingga menyebabkan gagal panen. Melalui GEMA TANGKAS, mahasiswa KKN UNSIKA hadir tidak hanya membawa teori, tetapi juga aksi nyata di lapangan bersama Kelompok Tani (Poktan) setempat.
Pernyataan Sikap:
M. Abdeejar Ridho Al Ghazali (Koordinator Mahasiswa Desa/Kormades):
”GEMA TANGKAS bukan sekadar program seremonial. Ini adalah bentuk pengabdian nyata kami untuk menyatukan langkah dengan masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa kehadiran mahasiswa UNSIKA memberikan solusi konkret bagi kendala yang dihadapi petani Taringgultengah.”
Riska Amanda (Ketua Pelaksana/Keplak):
”Fokus utama kami adalah edukasi dan pencegahan. Dengan tema sinergi yang kami usung, kami berharap kegiatan pada 16 Januari nanti menjadi titik awal sawah di desa ini benar-benar terbebas dari ancaman penyakit blas melalui penerapan teknik pertanian yang lebih tepat.”
Bapak Sobandi (Ketua Kelompok Tani/Poktan):
”Kami sangat menyambut baik inisiatif dari adik-adik mahasiswa. Penyakit blas seringkali sulit dikendalikan jika petani berjalan sendiri-sendiri. Dengan adanya gerakan bersama ini, kami merasa terbantu dalam memperkuat pertahanan sawah kami demi hasil panen yang lebih maksimal.”
Harapan Kedepan
Kegiatan ini akan meliputi sosialisasi pencegahan, praktik pembuatan fungisida nabati (opsional, sesuaikan dengan rencana), hingga diskusi dua arah antara akademisi dan praktisi lapangan. Diharapkan, setelah kegiatan ini berakhir, para petani memiliki kemandirian yang lebih kuat dalam mendeteksi dan menanggulangi penyakit blas secara mandiri.
(Riki)






