KARAWANG | SUARAPURWASUKA.COM– Upaya meningkatkan kesadaran lingkungan terus dilakukan Pemerintah Kelurahan Nagasari. Kepala Kelurahan Nagasari, H. Hasbullah, bersama Ketua Koperasi Merah Putih (Kopdes), Arif Wahyu Nugraha, didampingi guru SMKN 1 Karawang, Bambang Herwiyanto, turun langsung memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada warga Dipo Timur RW 24, Rabu (22/4/2026).
Kegiatan tersebut difokuskan pada penanganan sampah rumah tangga serta pelatihan pembuatan pupuk organik dan pengelolaan sampah anorganik. Hadir dalam kegiatan itu Ketua RW Dipo, Rt Lutfy, Ketua Binataruna Rinto, Bendahara Karang Taruna Batak, serta masyarakat yang mengikuti sosialisasi dengan antusias.

Dalam keterangannya, Lurah Nagasari H. Hasbullah menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga sebagai langkah awal menciptakan lingkungan bersih dan sehat.
“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan, dimulai dari memilah dan mengelola sampah di rumah masing-masing,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, program ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan kelurahan dalam menekan volume sampah sekaligus membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat.
Sementara itu, Bambang Herwiyanto memberikan pelatihan teknis pembuatan kompos organik padat kepada warga. Ia menjelaskan bahwa sampah organik seperti sisa makanan dan daun kering dapat diolah menjadi pupuk yang bermanfaat.
“Kompos ini bisa digunakan sendiri untuk kebutuhan rumah tangga maupun dijual melalui koperasi. Ini menjadi peluang ekonomi sekaligus solusi lingkungan,” jelasnya.
Bambang juga menyatakan dukungannya terhadap program Kelurahan Nagasari dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Kami sangat mendukung program ini karena selain edukatif, juga memberikan manfaat nyata bagi warga,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Kopdes Merah Putih, Arif Wahyu Nugraha, menuturkan bahwa pihaknya siap memfasilitasi masyarakat melalui program bank sampah. Warga diajak untuk memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
“Kami memiliki bank sampah yang dapat menampung sampah anorganik seperti botol plastik dan kardus. Selain membantu menjaga lingkungan, ini juga memiliki nilai ekonomis bagi warga dan bisa menjadi pintu masuk keanggotaan koperasi,” ungkap Arif.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah kelurahan, lembaga pendidikan, dan koperasi menjadi kunci keberhasilan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Kegiatan ini ditutup dengan praktik langsung pembuatan kompos oleh warga, serta diskusi interaktif terkait pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah semakin meningkat, sehingga mampu menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif secara ekonomi.
Karnata, Renal






