Bandung | SUARAPURWASUKA.COM- Pada abad ke-15, Pulau Jawa berada dalam masa transisi besar, ketika kekuatan lama mulai melemah dan kekuatan baru perlahan bangkit. Pulau Jawa menjadi panggung utama pergeseran dari dominasi Hindu-Buddha menuju era Islam yang kian menguat di wilayah pesisir.
Kerajaan Majapahit yang sejak abad ke-14 menjadi kekuatan terbesar di Nusantara, mulai mengalami kemerosotan pada abad ini. Konflik internal, perebutan kekuasaan, serta melemahnya kontrol terhadap daerah-daerah taklukan membuat pengaruhnya semakin menyusut, meskipun secara simbolik masih dihormati.
Di bagian barat, Kerajaan Sunda Pajajaran tetap berdiri sebagai kekuatan utama. Berpusat di wilayah Jawa Barat, kerajaan ini mempertahankan tradisi lama dan cenderung menutup diri dari pengaruh Islam yang mulai berkembang di pesisir utara.
Sementara itu, perubahan besar justru datang dari pesisir. Kesultanan Demak muncul sebagai kekuatan baru sekitar akhir abad ke-15. Didirikan oleh Raden Patah, Demak menjadi simbol lahirnya kerajaan Islam di Jawa, sekaligus pusat kekuatan politik dan dakwah yang agresif menggantikan dominasi lama.
Di Jawa Timur, Giri Kedaton berkembang sebagai pusat penyebaran Islam yang sangat berpengaruh. Dipimpin oleh para ulama, wilayah ini bukan hanya pesantren, tetapi juga memiliki kekuatan politik yang cukup besar dalam menentukan arah kekuasaan di Jawa.
Tak ketinggalan, Kerajaan Cirebon mulai tumbuh pesat di pesisir utara Jawa Barat. Letaknya yang strategis sebagai pelabuhan menjadikan Cirebon pusat perdagangan sekaligus jalur penting penyebaran Islam ke wilayah pedalaman Sunda.
Dengan demikian, abad ke-15 di Jawa bukan sekadar pergantian kerajaan, melainkan masa peralihan peradaban. Dari kejayaan Majapahit menuju bangkitnya kekuatan Islam seperti Demak dan Cirebon, sejarah Jawa pada masa ini mencerminkan dinamika politik, agama, dan budaya yang saling bertabrakan sekaligus membentuk wajah baru Nusantara.
Sumber : SEJARAH CIREBON






